twitter


SEKILAS BPJS

      BAGI PESERTA  BPJS YANG BELUM MEMBAYAR IURAN DIHARAPKAN UNTUK SEGERA MEMBAYAR IURAN TIAP BULANNYA SESUAI DENGAN KELAS YANG DIPILIH. 
     JIKA KARTU PESERTA TERDAFTAR GANDA ATAU TERDAFTAR  NON PREMI, MAKA PESERTA SEGERA MENGHUBUNGI KANTOR BPJS UNTUK MEMVERIFIKASI DATA
RUJUKAN BPJS DIBERIKAN OLEH DOKTER BUKAN ATAS PERMINTAAN PASIEN, DAN PASIEN HARUS HADIR DI PUSKESMAS DAN MEMBAWA KARTU BPJS/JMKSMAS DAN KARTU BEROBAT
UNTUK PASIEN YANG FKTP 1 BUKAN DI PUSKESMAS SEMBAYAT, MAKA PUSKESMAS TIDAK BISA MELAYANI BAIK DALAM HAL PENGOBATAN UMUM MAUPUN RUJUKAN
SURAT RUJUKAN BERLAKU 1 BULAN TERHITUNG DARI TANGGAL PEMBUATAN
PASIEN YANG SUDAH DIRUJUK KE RS TIDAK PERLU MEMINTA RUJUKAN KE PUSKESMAS UNTUK KE POLI LAIN JIKA POLI YANG DI TUJU MASIH DALAM SATU RS, RS YANG AKAN MERUJUK KE POLI LAINNYA
PEMBERIAN RUJUKAN
  • Pemberian surat rujukan atas indikasi medis
  •  Pada form rujukan, diagnosa harus ditulis dengan jelas, tidak boleh disingkat. Dilengkapi dengan data tindakan dan terapi obat yang telah diberikan di FKTP. Tanggal rujukan harus berupa stempel untuk menghindari diubahnya tanggal rujukan oleh peserta
  • Form rujukan yang digunakan adalah rujukan BPJS Kesehatan sebagaimana luaran aplikasi P-Care. Rujukan manual pun menggunakan format luaran aplikasi P-Care. Tidak lagi diperkenankan menggunakan form rujukan Askes/Jamsostek/Jamkesmas
  •  Pemberian surat rujukan ditujukan ke poli di FKTL, bukan ditujukan untuk permintaan penunjang diagnostik (misal, pemeriksaan laboratorium atau radiologi)
  •  Pasien dengan kondisi emergency yang dilayani di UGD tidak lagi memerlukan surat rujukan dari FKTP
  •  Pasien yang telah MRS di RS, baik melalui poli maupun melalui UGD tidak memerlukan surat rujukan dari FKTP
  •  Pasien yang dirujuk antar FKTL tidak memerlukan surat rujukan lagi dari FKTP untuk berkunjung ke FKTL ke-2 
  •  Rujukan penunjang diagnostik atau rujukan parsial antar FKTL tidak memerlukan surat rujukan dari FKTP. Pembiayaan rujukan parsial menjadi tanggung jawab FKTL peruju
  •  Pasien post MRS dapat menggunakan surat perintah kontrol dari RS untuk kontrol ke RS 
  • Peserta yang telah dirujuk ke suatu FKTL tidak boleh meminta rujukan ke FKTL lain, dengan diagnosa yang sama, bila masa berlaku rujukan belum habis
Kamis, 14 April 2016 | 0 komentar |

       Kehamilan ektopik atau juga dikenal sebagai kehamilan di luar kandungan merupakan suatu kondisi kehamilan dimana sel telur yang sudah dibuahi tidak mampu menempel atau melekat pada rahim ibu, namun melekat ada tempat yang lain atau berbeda yaitu di tempat yang dikenal dengan nama tuba falopi atau saluran telur, di leher rahim, dalam rongga perut atau di indung telur. Atau dengan kata lain, kehamilan ektopik meruapakan suatu kondisi dimana sel telur yang telah dibuahi mengalami implantasi pada tempat selain tempat seharunya, yaitu uterus. Jika sel telur yang telah dibuahi menempel pada saluran telur, hal ini akan menyebabkan bengkaknya atau pecahnya sel telur akibat pertumbuhan embrio.
     Kehamilan ektopik menimpa sekitar 1% dari seluruh kehamilan dan hal ini merupakan suatu kondisi darurat dimana dibutuhkan pertolongan secepatnya. Karena jika dibiarkan kondisi ini sangat berbahaya dan mampu mengancam nyawa ibu, hal ini disebabkan oleh perdarahan dalam rongga abdomen, dan bukan terjadinya perdarahan keluar. Dalam kasus kehamilan ektopik, janin memiliki kemungkinan yang sangat kecul untuk dapat bertahan hidup. Namun di sejumlah kondisi kecil, contoh pada kehamilan abdominal, kehamilan dan janin bisa bertahan hingga masa persalinan dan jika persalinan dilakukan dengan cara caesar, maka ada harapan serta kemungkinan bayi untuk dapat bertahan hidup.

Penyebab Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik biasanya disebabkan oleh berbagai hal, dan yang paling sering adalah disebabkan adanya infeksi pada saluran falopi (tuba falopi -  fallopian tube). Kehamilan ektopik besar kemungkinan terjadi pada kondisi:
  • Ibu pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya (terdapat riwayat kehamilan ektopik)
  • Ibu pernah mengalami operasi pembedahan pada daerah sekitar tuba falopi
  • Ibu pernah mengalami Diethylstiboestrol (DES) selama masa kehamilan
  • Kondisi tuba fallopi yang mengalami kelainan kongenital
  • Memiliki riwayat Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti gonorrhea, klamidia dan PID (pelvic inflamamtory disease)
  • Perempuan usia 35-45 tahun, pernah hamil di luar rahim
  • Perempuan yang pernah dioperasi saluran telur
  • Perempuan yang pernah aborsi berulang
  • Perempuan yang pernah mengalami problem infertilitas atau pengobatan untuk merangsang keluarnya sel telur dari indung telur
  • Perempuan yang menderita infeksi penggul ataupun menderita TB (tuberkulosis)

Gejala Kehamilan Ektopik

Pada saat usia kehamilan mencapai usia 6-10 minggu, biasa ibu hamil yang mengalami kehamilan ektopik akan mengalami gejala:
  • Ibu hamil mengalami rasa sakit pada daerah panggul salah satu sisinya dan biasanya terjadi dengan tiba-tiba
  • Mengalami kondisi perdarahan vagina di luar jadwal menstruasi atau menstruasi yang tidak biasa
  • Mengalami rasa nyeri yang sangat pada daerah perut bagian bawah
  • Ibu hamil mengalami pingsan

Gejala tahap lanjut pada kehamilan ektopik

  • Rasa sakit perut yang muncul akan terjadi semakin sering
  • Gejala lainnya adalah kulit ibu hamil terlihat lebih pucat
  • Adanya tekanan darah rendah (hipotensi)
  • Terjadinya denyut nadi yang meningkat

Diagnosa

            Kehamilan ektopik biasanya sangat sulit di diagnosa oleh dokter, karena gejala dan tanda kehamilan ektopik juga biasanya terjadi pada kehamilan normal. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendeteksi terjadinya kehamilan ektopik, yaitu dengan cara:
  • Menggunakan USG (ultrasonography). Melalui usg dokter dapat mendeteksi kehamilan ektopik karena tuba falopi terdetek mengalami kerusakan dan terjadinya perdarahan atau terdeteksi di luar uterus terdapat embrio
  • Melalui pengukuran terhadap kadar HCG (human chrionic gonadotopin - hormon kehamilan). Ibu hamil yang mengalami ektopik biasanya kadar hcg nya tidak mengalami peningkatan
  • Dilakukannya pembedahan dengan sayatan kecil di bagian bawah perut (laparoskopi)

Pengobatan

Dokter akan selalu membatalkan kondisi kehamilan ektopik dengan cara pemberian obat-obatan untuk menahan perkembangan embrio. Efek jangka panjang akan dapat terhindarkan jika, kehamilan ektopik dapat terdekteksi sejak dini. jika kehamilan ektopik telah terdektesi sejak dini, hal ini dapat ditangani dengan pemberian obat suntik agar dapat diserap oleh tubuh ibu hamil, hal ini dapat menyebabkan kondisi tuba falopi masih dalam keadaan utuh. Jika kondisi serius, seperti jika tuba falopi telah mengembang, maka dokter akan melakukan operasi.

Prognosa

             Sekitar 12% wanita akan kembali mengalami kehamilan ektopik, ketika sebelumnya juga pernah mengalami ektopik. Wanita akan kembali menjadi subur kembali setalah mengalami kehamilan ektopik (60%), trauma berat setalah mengalami kehamilan ektopik dan akibatnya tidak ingin mengalami kehamilan kembali (30%) serta sekitar 10% wanita akan memiliki masalah kesuburan setelah mengalami kehamilan ektopik.
            Dukungan positif suami, saudara, atau teman terdekat akan sangat diperlukan bagi wanita yang mengalami kehamilan ektopik. Hal ini diharapkan dapat mengurangi pengalaman traumatic dari kehamilan ektopik, sehingga recovery dan keinginan untuk hamil kembali bisa secapatnya pulih (tentunya melihat kondisi setelah mengalami kehamilan ektopik). Konsultasikan kondisi anda kepada dokter atau bidan jika anda ingin hamil kembali setelah mengalami kehamilan ektopik. Hal ini sangatlah penting untuk dilakukan, agar dokter atau bidan dapat memberikan langkah-langkah yang harus di tempuh untuk menghindari kembali terjadinya kehamilan ektopik. Dan jika, memutuskan untuk hamil kembali, maka pengawasan ketat terhadap kehamilan berikutnya sangat diperlukan, guna menjaga agar kehamilan tetap berlangsung dengan baik hingga masa persalinan nanti.
Rabu, 03 September 2014 | 0 komentar |





> 350 juta orang di dunia (± 5% populasi dunia)
{  Penyebab : hepatitis kronis, karsinoma hepatoseluler (KHS) à kematian 1 juta/ tahun
{  Infeksi pada bayi
à risiko kronis 90%
à sirosis/ KHS 25 – 30%

Epidemiologi
{  Endemis di seluruh dunia
{  Infeksi VHB masa bayi/ anak : asymptomatic
{  Terinfeksi VHB                < 1tahun à kronisitas 90%
                                    2 – 5 thn à kronisititas 50%
                                    > 5 thn à kronisitas 5 – 10%
{  Prevalensi HBsAg
§  Beberapa daerah 3 – 20%
§  Jakarta 4,1%
Klasifikasi WHO : Indonesia, prevalensi sedang – tinggi
Strategi : vaksinasi bayi sedini mungkin
{  Transmisi
À    Vertikal (ibu pengidap VHB)
À    Horisontal (kontak erat masa dini)
{  Anak          : 25% hepatitis B kronis à sirosis/ KHS
Dewasa       : 15% hepatitis B kronis à sirosis/ KHS

Etiologi
{  Virus DNA – famili HepaDNAviridae
{  Hepatotropik – nonsitopatik
{  Tahan terhadap :
@  Proses desinfeksi, sterilisasi alat-alat
@  Pengeringan, penyimpanan (³ 1minggu)
{  Infeksi VHB : 2 partikel virus (dalam darah)
@  Virion (virus utuh) = partikel dane
@  HBsAg (selubung virus)
{  DNA – VHB à replikasi virus
@  Deteksi dengan :
o    Metode hibridasi
o    Metode PCR
@  Kuantitatif à respons terapi ?

Antigen dan Antibodi
{  HBsAg dalam selubung virus – tidak infeksius
{  Anti HBs :
& Penyembuhan
& Imunitas thdp reinfeksi
& Respons imun thdp vaksin hepatitis B
& Transfer pasif dari HBIG
& Titer 10 mIU/ml à proteksi infeksi hepatitis B
{  HbcAg (Hepatitis B core Antigen) :
& Nukleokapsid membungkus DNA virus
& Dalam sel hepatosit (tidak beredar dalam aliran darah)
& Ekspresi pada permukaan oleh MHC kelas I (kompleks histokompatibilitas mayor) à induksi
Respons imun selular (sel T – sitotoksik) à sel hepatosit hancur
{  Anti HBc
@  Deteksi dalam serum (terinfeksi VHB)
@  Menetap seumur hidup (jadi bukan infeksi akut)
{  HbeAg (hepatitis B e antigen)
& Protein gen  (inti) à sirkulasi darah à respons imun tak bereaksi
& Sebagai petanda
o    Infektivitas
o    Aktivitas replikasi virus

Transmisi
{  Yang utama : jalur parenteral
{  ASIA endemisitas tinggi (perinatal – vertikal, kontak erat)
{  Dari ibu ke bayi :
§  Vertikal   - pranatal (intrauterin) à jarang
                     - intranatal (saat lahir)
                     - pascanatal (setelah lahir)
{  Ibu
§  HBsAg (+)         transmisi VHB
§  HbeAg (+)         70 – 90%
{  Ibu : HBsAg (+) à transmisi VHB 22 – 67%
{  Ibu hepatitis B akut : trimester I + II à transmisi (-)
                                        trimester III    à transmisi (+)

Perjalanan Alamiah
{  Non – sitopatik langsung pada hepatosit
{  Akibat respons imun à hepatosit hancur
               9 Non Spesifik
Y   IFN à # ekspresi
Y   HLA kelas I (permukaan hepatosit) à dikenal
Y   Sel T-sitotoksik à lisis hepatosit
               9 Spesifik
¥   Humoral
¥   Selular
{  Infeksi VHB perinatal à infeksi VHB kronis/ pengidap persisten
Oleh karena :
-       sistem imun belum sempurna (kurang berfungsi)
-       IgG anti HBc ibu secara pasif à bayi à menutup ekspresi HbcAg (permukaan hepatosit)
à tak dikenal sel sitotoksik
à hepatosit tak hancur (lisis)

Gejala
{  Hepatitis B anak : asimptomatik/ gejala ringan
{  Simptomatik setelah terpapar VHB beberapa minggu/ bulan, malaise, anorexia, rasa tak enak di perut, icterus
{  Laboratorium :
§  # enzim transaminase
§  Petanda serologis virus
{  Infeksi VHB akut                * HBsAg (+) - infeksius
Pejamu kronis (6 bulan)      * IgG anti HBc (+) – menetap seumur hidup

Stadium Infeksi Hepatitis B

Marker
Stadium I
Stadium II
Stadium III
Stadium IV
HBsAg
+
+
+
-
Anti – HBs
-
-
-
+
Anti – HBc
+
+
+
+
HBeAg
+
+
-
-
Anti HBe
-
-
+
+
DNA – VHB
+ kuat
+
-
-
AST – ALT
N
#
N
N


{  Stadium I
ç   Bersifat imun toleran
ç   Neonatus à beberapa dekade
ç   Dewasa à 2 – 4 minggu
ç   Gejala klinis : -
{  Stadium II
ç   Respons imun berkembang
à stimulasi sitokin
à sitolisis hepatosit
ç   HBeAg : tetap diproduksi
ç   Periode simtomatik à 3 – 4 minggu (akut)
ç   Kronis : à ³ 10 tahun à sirosis/ komplikasi

{  Stadium III
ç   Mampu mempertahankan respons imun
ç   Eliminasi hepatosit terinfeksi
ç   Replikasi virus aktif : berakhir
{  Stadium IV
ç   HBsAg : hilang


{  Faktor-faktor yang berperan dalam evolusi ke 4 stadium:
Y   Predisposisi genetik (ras ASIA)
Y   Adanya virus lain (VHD, VHC)
Y   Pengobatan imunosupresif
Y   Jenis kelamin (laki-laki lebih buruk dari perempuan)
Y   Timbul hepatitis B mutan

Kebijakan Preventif
{  Memotong rantai transmisi VHB pada usia dini à 2 pola : vertikal dan horizontal
{  Imunisasi Aktif :
À    Vaksin hepatitis B rekombinan (dari sel ragi)
                  Engerix-B (SKB)
                  HBVax – II (MSD)
                  Hepavax Gene (KGC)    
À    Semua bayi baru lahir (tabel 6)
À    Mencegah HVB klinis : 90-95% (anti HBs > 10 mIU/ ml)
À    Memori sistem imun à 12 tahun post imunisasi
À    Booster tidak dianjurkan
À    Efek samping : lokal, ringan, sementara (1 – 6%)
À    Uji serologis (anti HBs) tidak dianjurkan
(populasi risiko tinggi à 1 – 2 bulan post imunisasi ke – 3)
{  Imunisasi Pasif :
À    HBIg (Hepatitis B Immunoglobuline)
@  Proteksi cepat
@  Jangka pendek
À    Dosis : 100 U (0,5 ml) I.M
-       dalam waktu 12 jam setelah lahir
-       bersamaan dengan vaksin aktif (sisi berbeda)
{  Keadaan khusus : (tabel 7)
À    Ibu pengidap
o    HBIg segera setelah lahir/ 12 jam pertama
o    BKB/ BBLR à vaksin aktif segera
                        à periksa antiHBs 1 bulan setelah vaksin ke 3
À    Bukan pengidap
o    BKB/ BBLR risiko rendah (respons imun kurang)
      à imunisasi ditunda – BB 2 kg
                                     – umur 2 bulan
À    Non-responder
o    Setelah 3x vaksinasi à anti HBs (-)
o    Vaksinasi tambahan 1 – 3 x (kecuali HBsAg (+))
à setelah 3 x anti HBs masih (-)
à tidak perlu tambahan lagi

Penatalaksanaan Kuratif Umum
{  Hepatitis Virus B Akut
À    Awal periode symptomatic à tirah baring
À    Prinsip :
o    Suportif
o    Pemantauan perjalanan penyakit
À    Rawat inap : G.E.D, masukan oral sulit, SGOT/ SGPT > 10xN, curiga hepatitis fulminan (koagulopati, ensefalopati)
À    Pantau : fungsi hati dan HBsAg à setelah 6 bulan HBsAg masih (+) à pengidap HVB
{  Hepatitis Virus B kronik
À    Risiko sirosis dan KHS (pemahaman orang tua)
À    Pola hidup sehat, aktivitas fisik normal à tumbuh kembang normal
À    Imunisasi rutin, vaksin HVA
À    Pemantauan berkala :
o    Setiap 6 bulan : HBsAg, HBeAg, SGOT/ SGPT, USG hati, a-fetoprot (KHS?)
o    Setiap 1 – 2 tahun : HBV – DNA (tidak rutin) à untuk terapi antivirus (prediksi keberhasilan terapi dan respons terapi)
o    Setiap 2 bulan : > 3 x pemeriksaan berturut-turut HBsAg tetap (+), SGOT/ SGPT # > 1,5 x N à terapi anti virus ?
o    Biopsi hati : sebelum anti virus
à ulang biopsi utk melihat respons terapi


Penatalaksanaan Kuratif Khusus
{  Hepatitis B kronik à anti virus (Lamivudine dan IFN)
{  KHS – HVB


Tujuan Anti virus
{  Anti replikasi
{  Imunomodulator
{  Anti proliferasi
1.     Menekan replikasi à menurunkan risiko transmisi
2.     Aminotransferase : N
histologis hati : baik
3.     Derajat infektivitas virus : ¯
4.     Gejala : - / ¯
5.     Progresivitas dicegah, insidens ¯ KHS à survival baik

Indikasi terapi antivirus
{  HBV kronik, SGOT/ SGPT # ³ 1,5 x N
{  HBsAg (+)
{  HBV DNA (+)

{  Keberhasilan kombinasi IFN + lamivudine :
Y   Hanya 25 – 40% respons jangka panjang
Y   Terapi berhenti à HBsAg dan HBV – DNA muncul kembali


{  Faktor prediktor keberhasilan terapi :
1.     SGOT/SGPT # > 1,5 x N
Kadar HBV DNA serum rendah
2.     Riw hepatitis B akut, transmisi non-vertikal
3.     Lama sakit : relatif pendek
4.     P.A hati : hepatitis kronik aktif, sirosis (-)
5.     Anti HIV dan HDV (-)
6.     terinfeksi masa dewasa

{  KHS – HVB :
§  Jarang terjadi pada anak, kecuali daerah endemis
§  Bedah à reseksi tumor, lobektomi
§  Embolisasi (tumor luas) : 1 lobus hati
§  Transplantasi hati
§  Chemotherapy : tidak responsif

semoga bermanfaat, pipiN
Jumat, 04 Oktober 2013 | 0 komentar |